Pembunuh Cilik

Oleh : Reza Gardino

Terus terang, meski sudah beberapa kali mengadakan penelitian Kriminal
di
LP, pengalaman kali ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol langsung
dengan seseorang yang didakwa kasus pembunuhan berencana. Dengan jantung
dag
dig dug, pikiran saya melayang-layang mengira-ngira gambaran orang yang
akan
saya temui. Sudah terbayang muka keji hanibal lecter, juga
penjahat-penjahat
berjenggot palsu ala sinetron, dan gambaran-gambaran pembunuh berdarah
dingin lain yang sering saya temui di cerita TV.

Well, akhirnya setelah menunggu sekian lama berharap-harap cemas, salah
satu
sipir membawa seorang anak kehadapan saya.Yup, benar seorang anak
berumur 8
tahun. Tingginya tidak lebih dari pinggang orang dewasa dengan wajah
yang
diliputi senyum malu-malu. Matanya teduh dengan gerak-gerik yang sopan.

Saya pun membaca berkas kasusnya yang diserahkan oleh sipir itu. Sebelum
masuk penjara ternyata ia adalah juara kelas di sekolahnya, juara
menggambar, jago bermain suling, juara mengaji dan azan di tingkat
kanak-kanak. Kemampuan berhitungnya lumayan menonjol. Bahkan dari balik
sekolah di dalam penjara pun nilai sekolahnya tercatat kedua terbesar
tingkat provinsi. Lantas kenapa ia sampai membunuh? Dengan rencana pula?

Kasus ini terjadi ketika Arif sebut saja nama anak ini begitu, belum
genap
berusia tujuh tahun. Ayahnya yang berdagang di sebuah pasar di daerah
bekasi, dihabisi kepala preman yang menguasai daerah itu. Latar
belakangnya
karena si ayah enggan membayar uang ‘keamanan’ yang begitu tinggi.
Berita
ini rupanya sampai di telinga Arif. Malam esok harinya setelah ayahnya
dikebumikan ia mendatangi tempat mangkal preman tersebut. Bermodalkan
pisau
dapur ia menantang orang yang membunuh ayahnya.

“siapa yang bunuh ayah saya!” teriaknya kepada orang yang ada di tempat
itu.

“Gue terus kenapa?” ujar kepala preman yang membunuh ayahnya sambil
disambut
gelak tawa di belakangnya.

Tanpa banyak bicara anak kecil itu sambil melompat menghunuskan pisau ke
perut si preman. Dan tepat mengenai ulu hatinya, pria berbadan besar itu
jatuh tersungkur ke tanah. Arif pun langsung lari pulang ke rumah
setelahnya. Akhirnya selesai sholat subuh esok paginya ia digelandang ke
kantor polisi.

“Arif nih sering bikin repot petugas di Lapas!” ujar kepala lapas yang
ikut
menemani saya mewawancarai arif sambil tersenyum. Ternyata sejak di
penjara
dua tahun lalu. Anak ini sudah tiga kali melarikan diri dari selnya. Dan
caranya pun menurut saya tergolong ajaib.

Pelarian pertama dilakukannya dengan cara yang tak terpikirkan siapapun.
Setiap pagi sampah-sampah dari Lapas itu di jemput oleh mobil
kebersihan.
Sadar akan hal ini, diam-diam Arif menyelinap ke dalam salah satu
kantung
sampah. Hasilnya 1-0 untuk Arif. Ia berhasil keluar dari penjara.

Pelarian kedua lebih kreatif lagi. Anak yang doyan baca ini pernah
membaca
artikel tentang fermentasi makanan tape (ingat loh waktu wawancara
usianya
baru 8 tahun). Dari situ ia mendapat informasi bahwa tape mengandung
hawa
panas yang bersifat destruktif terhadap benda keras. Kebetulan pula di
Lapas
anak ini disediakan tape uli dua kali dalam seminggu. Setiap disediakan
tape, arif selalu berpuasa karena jatah tape itu dibalurkannya ke
dinding
tembok sel tahanannya. Hasilnya setelah empat bulan, tembok penjara itu
menjadi lunak seperti tanah liat. Satu buah lubang berhasil dibuatnya.
2-0
untuk arif. Ia keluar penjara ke dua kalinya.

Pelarian ke tiganya dilakukan ala Mission Imposible. Arif yang ditugasi
membersihkan kamar mandi melihat ember sebagai sebuah solusi. Besi yang
berfungsi sebagai pegangan ember itu di simpannya di dalam kamarnya.
Tahu
bahwa dirinya sudah diawasi sangat ketat, Arif memilih tempat
persembunyian
paling aman sebelum memutuskan untuk kabur. Ruang kepala Lapas menjadi
pilihannya. Alasannya jelas, karena tidak pernah satu pun penjaga berani
memeriksa ruangan ini. Ketika tengah malam ia menyelinap keluar dengan
menggunakan besi pegangan ember untuk membuka pintu dan gembok. Jangan
tanya
saya bagaimana caranya, pokoknya tahu-tahu ia sudah di luar. 3-0 untuk
Arif.

Lantas kenapa ia bisa tertangkap lagi? Rupanya kepintaran itu masih
berada
di sebuah kepala bocah. Pelarian-pelarianny a didorong dari rasa
kangennya
terhadap ibunya. Anak ini keluar dari penjara hanya untuk ke rumah sang
ibunda tercinta. Jadi dari Lapas tanggerang ia menumpang-numpang mobil
omprengan dan juga berjalan kaki sekian kilometer dengan satu tujuan,
pulang!

Karena itu pula pada pelarian Arif yang ketiga, kepala Lapas yang juga
seorang ibu ini meminta anak buahnya untuk tidak segera menjemput Arif.
Hasilnya dua hari kemudian Arif kembali lagi ke lapas sambil membawa
surat
untuk kepala Lapas yang ditulisnya sendiri.

Ibu kepala Arif minta maaf, tapi Arif kangen sama ibu Arif. Tulisnya
singkat.

Seorang anak cerdas yang harus terkurung dipenjara. Tapi, saya tidak
lantas
berpikir bahwa ia tidak benar-benar bersalah dan harus dibebaskan.
Bagaimanapun juga ia telah menghilangkan nyawa seseorang. Tapi saya
hanya
berandai-andai jika saja, polisi bertindak cepat menangkap pembunuh si
ayah
(secepat polisi menangkap si Arif) pastinya saat ini anak pintar dan
rajin
itu tidak akan berada di tempat seperti ini. Dan kreativitasnya yang
tinggi
itu bisa berguna untuk hal yang lain. Sayangnya si Arif itu cuma anak
pedagang sayur miskin sementara si preman yang dibunuhnya selalu setia
menyetor kepada pihak berwajib setempat. Itulah yang namanya keadilan
Indonesia !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: