THE PARABLE OF THE WISE FARMER


PERUMPAMAAN PETANI YANG BIJAK

 

By Juan M. Flavier

 

      The farmer was known in the barrio and in the whole kingdom as a wise man. In time, he earned the appellation as the wise farmer. He never went to school but he had a native wisdom. His reasoning and logic were much admired.

==== Petani itu dikenal dikawasan itu dan diseluruh kerajaan sebagai seorang yang arif nan bijak. Lambat laun, ia kian terkenal dan dijuluki sebagai sang petani yang bijaksana. Ia tidak pernah kesekolah tetapi ia memiliki kebijakan alami. Penjabaran segala alasan2 dan cara berpikirnya amat sangat dikagumi.

  

 

One day, the wise farmer accidentally found a ruby stone as big as a cashew nut. He did not know where to return it so he decided to hold on to the precious stone. He knew the matter of the loss would soon be publicized.

=====   Suatu hari, petani bijaksana ini tanpa disengaja menemukan sebutir batu merah delima sebesar biji mente. Tanpa tahu harus mengembalikannya kemana dan kepada siapa, ia memutuskan untuk menyimpan batu mulia ini. Ia tahu, soal kehilangan batu ini pasti segera akan diumumkan.

 

     True enough, a proclamation was made announcing the loss of the ruby of the Emperor. The stone was part of the royal crown. The decree included a handsome reward if the finder returned the stone within 30 days. Beyond that period, the holder would be beheaded.

=====   Wah, betul sekali, sebuah proklamasi diumumkan mengenai terhilangnya batu delima sang Kaisar. Batu ini ternyata bagian dari hiasan mahkota Kaisar. Pengumuman disertai keputusan pemberian hadiah besar apabila sipenemu mau mengembalikannya dalam tempo 30 hari. Selewat jangka waktu itu, sipemegang akan dihukum penggal kepala.

 

     The wise farmer heard the decree but decided to return the stone on the 31st day. Facing the Emperor, the wise farmer bowed his head and handed the ruby to its rightful owner. “Did you not hear my decree limiting the return within thirty days for the handsome reward?” roared the Emperor. “And that beyond that period meant death?”

=====   Petani bijak ini mendengar soal pengumuman itu tetapi memutuskan akan mengembalikannya pada hari ke 31. Menghadap Kaisar, petani bijak ini menundukkan kepalanya dan memberikan batu delima itu pada pemilik sahnya. “Hai, tidakkah kau dengar keputusanku membatasi pengembalian dalam waktu 30 hari agar dapatkan hadiah besar itu?” suara sang Kaisar menggelegar. “Dan bahwa selewatnya itu berarti hukuman mati?”

 

     “Yes, your Highness,” answered the wise farmer meekly.” I heard the proclamation on the first day. But I decided to return the ruby on the thirty-first day for a definite reason. If I returned it within the thirty-day period, you may say I did so out of fear. I returned it today and I did so because of my God who taught me to be honest.”

=====   “Benar, Paduka…,” jawab petani bijak ini halus merendah. “Hamba ini memang mendengarnya pada hari pertama. Tapi hamba memutuskan mengembalikan batu delima ini pada hari ke 31 karena alasan tertentu. Sekiranya hamba serahkan kembali dalam kurun 30-hari itu, bisa2 Paduka menganggap hamba ini berbuat demikian hanya karena dasar ketakutan. Jadi hari inilah baru hamba pulangkan dan ini karena Allahku yang mengajar hamba untuk jadi jujur.”

 

     “Blessed be your God,” exclaimed the Emperor.” Now you have to show me you’re God otherwise I am compelled to execute you.” ” Very well,” said the wise farmer, “I will do it at high noon tomorrow, your Highness.”  At exactly midday at the palace porch, the Emperor and his court summoned the wise farmer. “Now show me you’re God,” he commanded. “Your Highness please gaze directly at the sun above for five minutes and you will see my God.”

=====   “Hah, terberkatilah Allahmu,” seru Kaisar itu. “Kini kau harus menunjukkan padaku Allahmu, kalau tidak aku terpaksa harus mengeksekusimu.” “Baik, baiklah,” kata petani bijak itu, “Besok siang hari akan hamba lakukan itu, paduka yang mulia.” Esoknya, tepat panas2nya tengah hari, Kaisar disertai jajaran Kementerian Hukum dan Pengadilannya, menghadapkan si petani itu. “Nah, sekarang kau tunjukkan mana Allahmu,” perintah sang Kaisar. “Paduka Kaisar mohon langsung menatap matahari diatas itu selama lima menit dan nanti pastilah Allahku akan terlihat.”

 

     The Emperor and the whole court looked up. But after a few seconds, everyone’s eyes smarted with great pain. “I cannot do it!” exclaimed the Emperor. “In that case, you cannot see my God,” explained the wise farmer. “If you cannot gaze at the brilliance of the sun, then you cannot look to the splendor of God,” said the wise farmer.

=====   Kaisar dan seluruh jajaran pembantunya menengok keatas dan menatap matahari. Dalam beberapa detik, mata setiap orang cepat sekali terasa sakit, perih pedas sekali. “Aku tidak tahan, mana bisa ini!” teriak sang Kaisar. “Wah, kalau begitu paduka kan tak bisa melihat Allahku,” petani bijak itu menerangkan. “Kalau paduka tidak tahan menatap sinar kilau terang benderang cahaya matahari saja, ya paduka tidak bakalan mampu, dan mana bisa mau melihat kemuliaan dan kebesaran Allah,” petani bijak itu meneruskan.

 

    “For this I should have you beheaded immediately. But for returning the ruby I will give you a fair chance to be saved by your God. I will put two pieces of paper in a box. On one will be written the word Guilty’ and on the other, ‘Innocent.’ Whichever you pick is your verdict.”

===== “Karena [omonganmu yang kurang ajar] ini aku mestinya bisa nyuruh orang memenggal kepalamu segera. Tapi sebab dan untuk mengembalikan batu delima itu,aku akan memberimu peluang adil agar diselamatkan oleh Allahmu. Aku akan menaruh 2 lembar kertas potongan dalam sebuah kotak. Satunya akan bertuliskan kata ‘Bersalah’ dan pada lainnya ‘Tidak salah’. Apapun dan manapun yang kau pilih, itupula nanti bunyi keputusan nasibmu.”

 

     The wise farmer knew that both pieces of paper would bear the word “Guilty.” It was the Emperor’s way to make sure he was beheaded. It was also a way to discredit his God. The court attendant brought the box to the wise farmer who picked one piece of paper. Quickly he placed the paper in his mouth and swallowed it.

=====   Petani bijak itu tahu bahwa kedua lembar kertas itu akan sama bertuliskan kata2 ‘Bersalah’. Ia tahu itu cara Kaisar [yang licin] untuk memastikan ia bakal bisa dipenggal. Itu pun sebuah jalan untuk menjelek-jatuhkan Allahnya. Pembantu pengadilan membawa sebuah kotak pada petani itu yang memilih sehelai kertas. Cepat2 ia masukkan kedalam mulut dan langsung ditelannya.

 

     “Why did you do that?” screamed the court attendant.” Now how can we determine your verdict? ” “Very easy,” replied the wise farmer. “Just look at the other piece of paper remaining in the box. Whatever it says is the opposite of what I picked and swallowed earlier.” The court attendant retrieved the slip of paper from the box and read out, “Guilty!” .Which proved that the wise farmer was indeed innocent.

=====   “Lhooo, apa2an ini, kenapa kau lakukan itu?” sipembantu tadi menjerit. “Lha sekarang ini gimana caranya kami bisa menentukan keputusan nasibmu?” “Ahhh, mestinya tidak sulit,” jawab petani bijak itu. “Coba ambil dan lihat saja didalam kotak, apa yang tertulis dikertas satunya itu. Apapun bunyi yang tertulis merupakan kebalikan dari apa yang tadi kupilih dan aku telan.” Pembantu tadi mengambil sisa kertas satunya dari kotak dan membacakan keras-keras, “Bersalah!” Jadi terbuktilah petani bijak tadi benar2 tidak bersalah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: