Spiritualitas Bisnis

Oleh: A.M. Lilik Agung

 

 

Fenomena menarik yang akhir-akhir ini kita saksikan

bersama adalah gairah para eksekutif bisnis untuk

mengkaji nilai-nilai agama. Tempat-tempat ibadah

dipenuhi para eksekutif. Kantor-kantor – tak peduli kantor

perusahaan lokal maupun multi nasional – membuka diri bagi

eksekutifnya untuk mengembangkan dan mendiskusikan ajaran

agama. Malah tidak sedikit para eksekutif menjadi aktivis

‘gerakan-gerakan’ ritual agama yang kini menjadi trend kembali,

seperti tassawuf, sufi, karismatik bahkan New Age.

Maraknya para eksekutif kembali kepada ritual-ritual agama

harus dipahami sebagai sebuah ekpresi kerinduan mereka

untuk mengintegrasikan nilai-nilai etis, moral dan spiritual ke

dalam lingkungan bisnisnya yang cenderung sekuler, kering

dan materialistik. Memang pendapat minor mengemuka bahwa

eksekutif mendalami ritual agama hanya sekedar topeng –

terbukti dengan maraknya korupsi, manipulasi dan kolusi di

negeri ini – memang tidak seluruhnya dapat ditepis. Pertumbuhan

tempat ibadah yang ekuivalen dengan pertumbuhan aktivitas

korupsi, tak pelak menjadi ironi tersendiri di tengah keinginan

untuk memperbaiki moral warga negara.

Terlepas dari hukum paradoksal tersebut, gairah para eksekutif

untuk mempelajari nilai-nilai agama patut untuk dicermati.

Ada dua pertanyaan yang muncul untuk mengkritisi fenomena

ini. Apakah gairah tersebut cenderung sekedar mengikuti trend

yang kelak akan hilang sendiri seperti trend dunia mode yang

silih berganti? Atau lantaran para eksekutif muak melihat praktek

bisnis di tanah air yang selama ini pekat dengan aroma KKN

dan mereka ingin memasukkan unsur-unsur etika dalam

berbisnis? Kalau yang muncul kepermukaan adalah pertanyaan

pertama, maka pendapat minor tentang budaya topeng seperti

tertulis di atas mendapat legitimasi. Sementara bila yang

mencuat alasan kedua, maka kita patut bersyukur. Para eksekutif

yang diyakini sebagai agen perubahan, menjadi motivator

untuk menciptakan good corporate governance.

Untuk sementara gairah eksekutif mendalami ritual agama

kita pahami sebagai minat para eksekutif untuk mengembangkan

bisnis yang berbasis moral dan profesional. Setelah lama

dikungkung oleh budaya kerja yang menjauhkan diri dari nilai-nilai

profesional, para eksekutif mulai membangun diri

pribadinya dengan nuansa spiritual yang kelak mewarnai

bisnis yang digelutinya. Dalam wacana kekinian, etos baru

eksekutif ini disebut sebagai spiritualitas bisnis.

Spiritualitas bisnis, seperti dari namanya, dibangun dari

dua buah kata; spiritualitas dan bisnis. Spiritualitas sendiri

menurut kamus Webster artinya attachment to religious values

atau dapat pula berarti the state of being spiritual. Dalam

komunitas kami, spiritualitas kami artikan sebagai rangkaian proses transendensi kehidupan

hingga lebih berkarakter spiritual.

Berkarakter spiritual artinya mampu mentransendensikan

materi. Nilai-nilai materi sudah melampui batas-batas normal

menjadi nilai-nilai yang berkualitas non materi (spiritual) tanpa

harus kehilangan karakter materinya. Jadi dalam konteks ini,

karakter spiritual tidak menentang atau mengharamkan materi.

Materi tetap diperlukan. Hanya saja materi tidak terbatas pada

wujudnya, namun sudah bermain dalam tataran nilai spiritual,

keadilan, dan kegunaan.

Transendensi yang artinya melampui batas-batas normal

atau melampui pengetahuan biasa, memang menjadi kata

kunci dari spiritualitas. Orang-orang yang memiliki spiritualitas

dengan demikian orang-orang yang sudah mampu melakukan

transendensi (pelampuan) terhadap batas-batas materi, ruang,

waktu, lokalitas, pengetahuan dan pengalaman yang serba

biasa, tanpa harus kehilangan karakter ‘biasa-nya’ itu. Dalam

kaitan ini maka spiritualitas sekaligus mengandung makna

menuju pada integrasi (kepaduan) dan holisme (keutuhan).

Juga boleh dikatakan lawan dari spiritualitas adalah

reduksionisme dan sektarianisme.

Spiritualitas bisnis dengan demikian merupakan proses

transendensi untuk membentuk lembaga bisnis melampui

pengertian bisnis sendiri seperti yang selama ini dipahami.

Spiritualitas bisnis tidak melulu berbicara tentang profit,

transaksi, manajemen, akunting dan strategi, namun juga

mempersoalkan pelayanan, pengembangan, tanggung jawab

sosial, lingkungan hidup dan keadilan. Spiritualitas tidak lagi

terkungkung oleh aturan-aturan formal yang malah memberi

pelung untuk berbuat curang, namun bermain dengan aturanaturan

moral, etika, dan kemanusian yang bermuara pada

keadilan dan kejujuran. Dengan pengertian ini, utopiakah

spiritualitas bisnis? Atau jangan-jangan spiritualitas bisnis

merupakan konsep yang cuma enak diomongkan di ruang

seminar sementara untuk beroperasi di lapangan kedodoran?

Menarik untuk disimak corporate culture yang di

kembangkan oleh perusahaan Electronic Elite. Dalam Wisdom

of the Electronic Elite dijelaskan bahwa dewasa ini terjadi

pemahaman-pemahaman yang meluas (baca : transendensi)

dalam dunia bisnis sebgai berikut :

1. Bisnis adalah ekosistem; bukan medan perang

2. Perusahaan adalah komunitas; bukan mesin

3. Manajemen adalah pelayanan; bukan kontrol

4. Manajer adalah coach; bukan mandor

5. Karyawan adalah sejawat; bukan pembantu

6. Motivasi datang dari visi; bukan rasa takut

7. Perubahan adalah pertumbuhan; bukan penderitaan.

Memperhatikan corporate culture Electronic Elite, sudah

pantas kalau kita menyebut perusahaan ini menjalankan

spiritualitas bisnis. Corporate culture ini sekaligus contoh

‘duniawi’ menjadi ‘spiritual’ Coba kita simak corporate culture

yang pertama, bisnis adalah ekosistem; bukan medan perang.

Selama ini yang kita pahami dan kebetulan didukung oleh

literatur-literatur , bisnis dikenali sebagai medan perang.

Berbisnis artinya berperang. Dengan logika ini mnejadi wajar

bila persaingan sebagai bentuk peperangan yang mana

perusahaan satu harus membunuh perusahaan lain. Medan

perang tidak kenal moral (a moral). Segala sesuatu boleh

dilakukan. Ketika kompetisis bisnis berubah menjadi medan

perang, akhirnya segala cara dipergunakan. Akibatnya pelaku

bisnis kecil terlindas pebisnis besar, konsumen dirugikan dan

alam dirusak tanpa ampun.

Sebaliknya akan terjadi bila bisnis dipahami sebagai

ekosistem. Di dalam ekosistem tidak ada yang menindas dan

yang tertindas. Yang besar tidak memangsa yang kecil. Semua

saling membutuhkan dan melengkapi. Keberlanjutan dan

keseimbangan menjadi prioritas. Ketika bisnis dipahami

sebagai ekosistem, yang terjadi adalah keseimbangan antara

pebisnis besar dan pebisnis kecil. Lembaga bisnis merupakan

bagian dari masyarakat yang tidak bisa melepaskan diri dari

masyarakat. Stakeholders, yaitu pemerintah, konsumen,

pemegang saham, manajemen dan karyawan saling terkait

secara interdependen dan sinergik.

Corporate culture yang dimiliki Electronic Elite layak bila

kita sebut sebagai paradigma baru dunia bisnis. Paradigma

baru ini memang kental dengan nuansa spiritual. Namun itulah

kenyataan yang tidak bisa kita elakkan. Studi Prof. Collin dan

Prof. Porras melalui buku spektakulernya ‘Built to Last’ dan dilanjutkan lewat buku ”Good to Great” menyebutkan perusahaan-perusaha an yang berumur puluhan

tahun dan sampai detik ini menjadi market leader penuh

nuansa spiritual di dalam visi, misi, maupun core value-nya.

Seperti misal core value General Electric “Improving the quality

of life through technology and innovationMerck “We are in the

business of preserving and improving human life” Procter &

Gamble “Honesty and fairness.”

Maka tidak terlalu mengejutkan jika kita berpendapat bahwa

rahasia kesuksesan organisasi sesungguhnya terletak pada

kekuatan spiritualitasnya. Tanpa spiritualitas, tanpa roh, maka

organisasi akan cepat mati. Dalam upaya maha besar memulihkan

ekonomi republik tercinta, yang juga berarti membangun

kembali vitalitas dunia bisnis kita, maka spiritualitas bisnis

merupakan sebuah keharusan. Pada aras lain, untuk menjaga

keutuhan republik ini agar tidak dipahami disintrgrasi (baca :

kematian) maka spiritualitas dalam segenap aspek kehidupan

berbangsa dan bernegara patut pula dianggap sebagai sentral

dari usaha tersebut. Akhirnya, selamat menjalankan spiritualitas

bisnis.

 

A.M. Lilik Agung, Mitra Pengelola High Leap Consulting.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: